Perhitungan Pajak Jual beli Tanah 2017

Pada awal september 2016, Pajak Jual beli tanah dan bangunan turun menjadi 2,5 %, sebelumnya sebesar 5%. Penurunan ini diresmikan pada tanggal 9 september 2016 melalui Peraturan Pemerintah (PP) No 34/2016 tentang PPh final atas penjualan tanah dan bangunan tersebut berlaku satu bulan sejak PP tersebut ditandantangani.

Cara menghitung Pajak Jual beli tanah dan bangunan
Pajak Jual Beli Tanah
Implementasi pelaksanaan perubahan tarif pajak jual beli tanah berlaku diseluruh indonesia, hanya saja pemberlakuakn tersebut sangat bergantung dengan kondisi daerah, karena membutuhkan perda lanjutan yang perlu disetujui oleh Gubernur, Bupati/Walikota dengan DPRD. Setidaknya dalam PP No 34/2016 ini, Presiden Joko Widodo meminta gubernur, bupati atau walikota juga melakukan perubahan Peraturan Daerah (Perda) tentang Bea Perolehan Hak Atas Tanah (BPHTB) untuk perolehan/pembelian Tanah dan Bangunan sebesar 5 persen menjadi 2,5 persen.Jadi kemungkinan tidak serentak, perubahan ini menyeluruh pada tahun 2017 ini.

Mengenal Pajak Jual beli Tanah

Pada saat melakukan jual beli tanah dan bangunan pertama kali pasti anda bertanya, Pajak jual beli tanah dan bangunan ditanggung oleh siapa? Jawabannya adalah kedua belah pihak. Pada saat jual beli tanah baik pembeli maupun penjual akan dikenakan pajak. Pertama, penjual akan dikenakan pajak penghasilan (PPh) atas uang pembayaran harga tanah yang diterimanya atau hasil dari harga jual rumah, Kedua, Pembeli akan dikenakan  Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) atas perolehan hak atas tanahnya.

Pajak Penghasilan PPh atau pajak yang umum dikenakan pada proses jual beli, gaji bulanan dll. Besarnya PPh pada jual beli rumah sebesar 2,5 % dari uang yang diterima oleh penjual, artinya pajak ini dibebankan oleh si penjual.  Sedang, BPHTB dikenakan bukan hanya pada saat terjadinya jual beli tanah, tapi juga terhadap setiap perolehan hak atas tanah dan bangunan seperti tukar menukar, hibah, waris, pemasukan tanah kedalam perseroan, dan lain-lain.

Dasar pengenaan BPHTB adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP),  NPOP diperoleh dari harga transaksi jual beli tanah. Besarnya Nilai Perolehan Obyek Pajak sangat tergantung dari kesepakatan penjual dan pembeli, bisa lebih besar atau bisa juga lebih kecil dari Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP). Besar kecilnya NJOP akan berpengaruh pada perhitungan BPHTB, Jika Harga transaksi lebih kecil dari NJOP, maka yang menjadi dasar penentuan NPOP adalah nilai NJOP, atau Sebaliknya.


Selain NJOP, faktor lainnya yang perlu diperhatikan dalam menentukan besarnya BPHTB adalah Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP). NPOPTKP adalah nilai pengurangan NPOP sebelum dikenakan tarif BPHTB.  Setiap daerah memiliki NPOPTKP yang berbeda, tergantung dari ZNT (Zona Nila Tanah) yang ditetapkan pemerintah.

Cara Menghitung Pajak Jual beli Tanah

Andika Kangen Band membeli tanah milik Sule dengan nilai jual beli sebesar Rp. 400.000.000. Tanah milik sule didaerah DKI Jakarta. Maka pajak yang dibebankan penjual dan pajak pembeli adalah......

Diketahui :
-NPOP = Rp 400.000.000
-NPOPTKP DKI Jakarta : Rp  80.000.000

Jawab :

Pajak Pembeli (BPHTB)

NPOP                        = Rp 400.000.000
NPOPTKP                 = Rp  80.000.000
___________________________________ -
NPOP Kena Pajak     = Rp  120.000.000

Jadi tarif BPHTB yang dibebankan pembeli adalalah 2,5% xRp 120.000.000 = Rp 3.000.000

Pajak Penjual (PPh)
PPh= 2,5% x Rp200.000.000 = Rp 5.000.000

Baca : Perhitungan Pajak Jual beli rumah

Demikian lah perhitungan Pajak jual beli tanah dan bangunan yang dibebankan kepada pejual dan pembeli.Sekian, semoga bermanfaat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Perhitungan Pajak Jual beli Tanah 2017"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel