Pajak Jual Beli Rumah Bekas (Second) : Perhitungan dan Biaya Tambahannya

Bagi anda yang berkecimpung di dunia property, terutama dalam jual beli rumah baru ataupun second tentu tidak asing lagi mengenai prosedur, pajak dan biaya tambahan lainnya yan harus dibayarkan. Ibarat itu adalah makanan sehari hari, sudah menjadi tugas anda. Namun, bagi yang hendak membeli atau menjual rumah mereka tentu sedikit kebingungan menghadapi hal hal demikian, alhasil mereka menyerahkannya kepada agen properti atau makelar yang akan menambah atau mengurangi biaya dalam transaski jual beli rumah. Anda terima beres.
Cara menghitung Pajak dan biaya biaya jual beli rumah bekas
Pajak Jual Beli Rumah Bekas

Mengingat pajak dan biaya jual beli rumah itu cukup besar, anda yang memiliki rumah dan hendak menjualnya, anda harus memahami pajak dan biaya pengurusanya. Karena tidak semua agen properti itu tidak semuanya jujur. Ingat kata bang napi, "kejahatan tidak hanya dari niat si pelaku, tetapi juga karena adanya  kesempatan". Ya setidaknya kalau kita paham, kita tidak kena tipu tipu agen nakal.

Oleh karena itu, pahamilah soal pajak jual beli rumah dan biaya tambahan seperti pengecekan sertifikat, balik nama dan akta notaris. Jangan sampai dalam proses jual beli rumah anda mengutamakan keuntungan dari besarnya nilai jual rumah, karena nilai jual rumah akan berpengaruh kepada pajak yang harus dibayarkan dan jumlah uang yang diterima oleh anda sebagai penjual rumah.

Nah, dibawah ini, akan saya jelaskan mengenai jenis jenis pajak yang anda bayar dalam proses jual beli rumah

1. NJOP (Nilai Jual Objek Pajak)

Nilai Jual Objek Pajak adalah nilai jual yang telah ditetapkan oleh negara sebagai dasar pengenaan pajak bagi PBB. NJOP di setiap daerah di Indonesia berbeda beda. NJOP bisa anda lihat di berkas pembayaran PBB. NJOP ini dipakai sebagai dasar untuk melakukan penawaran harga kepada penjual rumah. Dengan adanya NJOP ini penawaran terjadi kewajaran karena adanya pertimbangan dari besaran pajak dan seberapa tinggi rumah dijual di atas NJOP sehingga penawaran yang Anda lakukan tidak asal asalan.

2. NPOP (Nilai Perolehan Objek Pajak)

Nilai Perolehan Objek Pajak merupakan nilai yang sudah disepakati antara penjual dan pembeli rumah yang tercantum dalam perjanjian pengalihan hak.  Nilai ini diperoleh dari besarnya hak atas tanah dan bangunan dalam perhitungan BPHTB.

3. PPh (Pajak Penghasilan)
Pajak penghasilan mungkin sudah paham, karena pajak ini diperoleh dari harga jual rumah. Pajak penghasilan ini lebih kepada pajak yang dibebankan untuk penjual rumah. Besarnya pajak dibebankan kepada penjual rumah sebesar 5% dari harga jual rumah. Pajak ini akan dianggap selesai dibayar jika sudah dilakukan pemotongan, pemungutan atau penyetoran sendiri oleh wajib pajak.

4. BPHTB (Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan)

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan. Dasar pengenaan atas bea perolehan hak atas tanah dan bangunan dari nilai perolehan objek pajak dengan besaran tarif sebesar 5% dari nilai perolehan objek pajak. Pajak ini dibebankan kepada pembeli rumah, bisa dibilang, pajak ini kebalikan dari PPh.

5. NPOPTKP (Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak)

NPOPTKP adalah nilai untuk pengurang perhitungan BPHTB atas peroleh hak tanah dan bangunan. Nilai dari NPOPTKP ini berbeda-beda tiap wilayahnya, sehingga pengurangannya pun akan berbeda-beda tiap wilayahnya.

6. NPOPKP (Nilai Perolehan Objek Pajak Kena Pajak)
NPOPTKP adalah nilai pengurangan NPOP sebelum dikenakan tarif BPHTB. NPOPKP ini adalah dasar untuk pengenaan pajak BPHTB.

Setelah mengetahui jenisjenis pajak jual beli rumah, kita langsung saja pada penerapan dalam perhitungannya. Dalam hal ini, akan saya beri ilustrasi tentang sebuah proses jual beli rumah.

Contoh Soal :

Pak Andi akan menjual rumah di Jakarta Utara dengan rincian  luas tanah 100 m2 dan luas bangunan 50 m2. Harga tanah tersebut berdasarkan NJOP sebesar Rp 1.000.000 per m2 dan nilai bangunan sebesar Rp 800.000 per m2. Lalu berapakah pajak yang harus dibayarkan oleh kedua Pihak?

Dalam kasus ini, pajak ditanggung keduanya, yaitu penjual rumah (PPh) dan pembeli rumah (BPHTB)


Berikut Cara menghitung Pajak Jual beli rumah bekas

Perhitungan PPh :
Harga Tanah : 100 m2 x Rp 1.000.000 = Rp 100.000.000
Harga Bangunan 50 m2 x Rp 800.000  = Rp   40.000.000
____________________________________________________ +

Jumlah Harga Keseluruhan                   = Rp 140.000.000

PPh = 5% x Rp 140.000.000              = Rp 7.000.000

Jadi PPh yang harus dibayarkan oleh penjual adalah sebesar Rp 7.000.000


Perhitungan BPHTB :

(BPHTB) adalah pajak yang ditanggung oelh pembeli. Sebelum mulai menghitung BPHTB, kita harus mengetahui terlebih dahulu Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak atau NPOPTKP rumah yang dibeli di wilayah Jakarta Utara. NPOPTKP nya disesuaikan dengan nilai di Jakarta Utara, yaitu
Rp. 80.000.000 .Begini cara perhitungannya:


Harga Tanah : 100 m2 x Rp 1.000.000 = Rp 100.000.000
Harga Bangunan 50 m2 x Rp 800.000  = Rp   40.000.000
____________________________________________________ +

Jumlah Harga Keseluruhan                   = Rp 140.000.000

NPOPTKP                                         = Rp.  80.000.000
___________________________________________________ -
Nilai BPHTB                                       = Rp   60.000.000

Jadi BPHTB yang harus dibayarkan oleh pembeli adalah
=
5% x Rp 60.000.000 = Rp 3.000.000

Selain anda kena Pajak, Anda juga kena biaya tambahan lain yang harus anda bayar, dibawah ini :

Pengecekan Sertifikat

Pengecekan sertifikat dilakukan di kantor pertanahan setempat sebelum proses jual beli dilakukan. Pengecekan ini diperlukan untuk memastikan apakah sertifikat rumah atau tanah yang akan dibeli tidak memiliki catatan seperti blokir, sita, atau catatan lainnya. Jadi kedepannya aman. Untuk biaya pengecekan sertifikat ini biasanya tergantung kebijakan kantor pertanahan setempat.

Biaya Akta Jual Beli

Biaya umum dari akta jual beli adalah biaya 1 % dari nilai transaksi yang diberikan kepada Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) , tetapi harga ini tidak kaku dan bisa dinegosiasi. Jadi Anda bisa menawar harga yang diajukannya hingga mencapai kata sepakat. Untuk biaya akta jual beli ini biasanya dibayarkan secara proporsional antara pihak penjual dan pembeli.

Biaya Balik Nama

Balik nama sertifikat dilakukan di Kantor Pertanahan setempat dan ditanggung oleh pembeli rumah. Proses balik nama ini diajukan oleh PPAT dengan membayar sejumlah biaya sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Besar biaya Balik Nama sebesar Rp 25.000, tergantung ZNT (Zona Nilai Tanah).

Biaya PNBP
PNBP atau Penerimaan Negara Bukan Pajak dibayarkan sekaligus pada saat pengajuan Peralihan Hak atau Balik Nama. Besarnya PNBP ini: 1 0/00 (satu perseribu/permill) dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah.

Demikian penjelasan mengenai pajak jual beli rumah dan biaya biaya tambahan lain yang harus dikeluarkan oelh kedua pihak. Sekian, semoga bermanfaat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pajak Jual Beli Rumah Bekas (Second) : Perhitungan dan Biaya Tambahannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel